Materi
Arti tingkat kesukaran, penggolongannya, dan cara membaca pengecoh dibahas di pelajaran Analisis butir pada kelas Desain Pembelajaran. Pelajaran ini hanya menyusun hitungannya di lembar kerja. Bentuk datanya matriks: satu baris per siswa, satu kolom per butir, 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk salah. Butir yang tidak dijawab ditulis 0, bukan dikosongkan. Skor total siswa adalah SUM barisnya.
Tingkat kesukaran butir adalah proporsi siswa yang menjawab benar: jumlah benar dibagi jumlah peserta. Karena isinya 1 dan 0, AVERAGE kolom butir langsung memberi proporsi itu; dikali 100, hasilnya skala persen pada laporan ScorePak University of Washington.
Indeks daya beda sederhana dari panduan University of Delaware membandingkan dua kelompok yang sama besar: siswa dengan skor total tertinggi (kelompok atas) dan terendah (kelompok bawah). Indeksnya jumlah benar kelompok atas dikurangi jumlah benar kelompok bawah, dibagi banyaknya siswa satu kelompok, sama dengan proporsi benar kelompok atas dikurangi proporsi benar kelompok bawah. Rentangnya −1 sampai 1, dan nilai negatif menandai butir yang perlu diperiksa, misalnya kuncinya. Contoh dengan skor total di H, siswa per kelompok di M1, dan label kelompok di I:
=IF(RANK.EQ(H4,$H$4:$H$33)<=$M$1,"Atas",IF(RANK.EQ(H4,$H$4:$H$33,1)<=$M$1,"Bawah","Tengah"))
=AVERAGEIFS(B4:B33,$I$4:$I$33,"Atas")-AVERAGEIFS(B4:B33,$I$4:$I$33,"Bawah")