Materi
OpenStax Bagian 1.2 menelusuri akar sosiologi. Pada abad ke-14 Ibnu Khaldun dari Tunisia membandingkan kehidupan suku nomaden dengan masyarakat menetap dan mengaitkan kepaduan suku dengan kekuasaannya. Auguste Comte memperkenalkan kembali istilah sosiologi pada 1838, setelah Emmanuel Sieyès menuliskannya pertama kali pada 1780, dan yakin masyarakat dapat dipelajari dengan metode ilmu alam (positivisme). Karl Marx melihat perubahan masyarakat lahir dari pertentangan kelas. Émile Durkheim menyatakan sosiolog meneliti fakta sosial yang objektif. Max Weber memperkenalkan verstehen: memahami tindakan dari sudut pandang orang dalam.
Bagian 1.3 menyebut tiga paradigma yang mendominasi. Fungsionalisme struktural memandang masyarakat sebagai bagian-bagian yang saling terkait, masing-masing memenuhi kebutuhan sosial. Teori konflik memandang masyarakat sebagai persaingan memperebutkan sumber daya terbatas, sehingga lembaga sosial mencerminkan ketimpangan. Interaksionisme simbolik bekerja di tingkat mikro: orang memberi makna pada sesuatu lewat interaksi dan simbol, lalu bertindak berdasarkan makna itu.
Robert Merton, tokoh fungsionalis, membedakan fungsi manifes (akibat yang dituju), fungsi laten (akibat yang tidak dituju), dan disfungsi (akibat yang mengganggu jalannya masyarakat).
| Perspektif | Tingkat | Pertanyaan khas tentang arisan RT (karangan) |
|---|---|---|
| Fungsionalisme struktural | Makro | Kebutuhan apa yang dipenuhi arisan bagi warga? |
| Teori konflik | Makro | Siapa yang menguasai uang arisan, dan siapa yang dirugikan? |
| Interaksionisme simbolik | Mikro | Apa arti datang ke arisan bagi tiap anggota? |