Kerjakan dengan urutan yang sudah dilatih: baca cepat sekali untuk memetakan isi tiap paragraf, baca pertanyaannya, pilih kata kunci yang jarang muncul, lalu kembali ke paragraf yang dituju. Lima pertanyaan berikut menguji ide pokok, penelusuran keterangan, pemisahan fakta dan opini, simpulan, serta informasi yang tidak ada di teks.
Angklung
Angklung adalah alat musik dari bambu yang berkembang di masyarakat Sunda. Alat ini terdiri atas beberapa tabung bambu yang digantung pada satu bingkai. Bunyi keluar saat bingkai digoyangkan, karena tabung membentur rangka penahannya. Setiap bingkai menghasilkan satu nada, sehingga sebuah lagu dimainkan beberapa orang sekaligus, masing-masing memegang satu atau dua bingkai.
Nada sebuah angklung ditentukan ukuran tabungnya. Tabung yang panjang dan lebar menghasilkan nada rendah, sedangkan tabung yang pendek dan sempit menghasilkan nada tinggi. Pembuat angklung menyetel nada dengan menyerut dinding tabung sedikit demi sedikit, lalu memeriksanya kembali dengan nada rujukan. Bambu yang dipakai dikeringkan lebih dahulu supaya ukurannya tidak berubah setelah disetel.
Dalam tradisi Sunda, angklung dipakai pada upacara yang berkaitan dengan padi, dan permainannya mengiringi arak-arakan hasil panen. Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial pernah membatasi pemakaiannya karena angklung dipakai membangkitkan semangat perlawanan. Sesudah pembatasan itu, alat ini lebih banyak dimainkan anak-anak.
Sejak pertengahan abad kedua puluh, pengajaran angklung disusun ulang sebagai kegiatan kelompok. Satu pelatih memegang partitur, dan pemain hanya perlu mengenali isyarat tangan untuk nada yang harus dibunyikan. Cara ini membuat sebuah lagu dapat dimainkan orang yang baru berkenalan dengan alatnya pada hari itu juga. Bunyi angklung memang paling merdu di antara semua alat musik bambu.
Angklung tercatat sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) pada daftar UNESCO. Pencatatan itu menyangkut alatnya sekaligus cara pembuatan dan cara pengajarannya.