Materi
Satu isi sering bisa dibuka dari beberapa URL: versi HTTP dan HTTPS, hasil urutan atau filter seperti /menu?urut=harga, versi cetak, atau versi seluler terpisah. Google mengelompokkan halaman yang isinya mirip, lalu memilih satu yang paling lengkap dan berguna sebagai kanonis. Halaman kanonis paling sering dirayapi dan paling sering tampil. Starter Guide menegaskan duplikat di dalam satu situs bukan pelanggaran dan tidak dikenai tindakan manual; yang dirugikan adalah efisiensi perayapan dan kejelasan data.
Kamu bisa menyatakan pilihanmu, dan Google menyebutnya petunjuk, bukan perintah. Urutan kekuatannya: pengalihan (redirect) sinyal kuat, rel="canonical" sinyal kuat, pencantuman di sitemap sinyal lemah. Elemen link rel="canonical" ditulis di head halaman duplikat dan menunjuk URL kanonis dengan alamat absolut, dan halaman kanonis sendiri juga diberi canonical yang menunjuk dirinya. Jangan memakai robots.txt atau noindex untuk memilih kanonis.
<!-- di head halaman https://perpusukamaju.example/koleksi?urut=judul -->
<link rel="canonical" href="https://perpusukamaju.example/koleksi">
<!-- di head versi Indonesia DAN versi Inggris, isinya sama -->
<link rel="alternate" hreflang="id" href="https://perpusukamaju.example/id/koleksi">
<link rel="alternate" hreflang="en" href="https://perpusukamaju.example/en/koleksi">
<link rel="alternate" hreflang="x-default" href="https://perpusukamaju.example/id/koleksi">Halaman terjemahan bukan duplikat, kecuali isi utamanya tidak diterjemahkan. Untuk memberi tahu hubungan antarversi bahasa dipakai link rel="alternate" dengan atribut hreflang. Aturannya: setiap versi mencantumkan dirinya sendiri dan semua versi lain, pasangan harus saling menunjuk, URL ditulis lengkap dengan https://, dan kodenya berupa kode bahasa ISO 639-1 yang boleh diikuti kode wilayah ISO 3166-1 Alpha 2, misalnya id atau en-GB. Nilai x-default menunjuk halaman cadangan untuk bahasa yang tidak tercantum. Google tidak memakai hreflang maupun atribut lang untuk mendeteksi bahasa halaman.