Harga jutaan barang tidak dirata-ratakan begitu saja, karena sebagian barang menyerap bagian belanja yang jauh lebih besar daripada yang lain. Caranya: susun sebuah keranjang barang dengan kuantitas yang ditetapkan tetap, lalu hitung berapa rupiah yang dibutuhkan untuk membeli keranjang itu pada tiap periode.
| Barang | Jumlah tetap | Periode 1 | Periode 2 | Periode 3 | Periode 4 |
|---|---|---|---|---|---|
| Beras | 10 kg | Rp12.000 | Rp12.500 | Rp13.000 | Rp14.000 |
| Telur | 4 kg | Rp26.000 | Rp28.000 | Rp27.000 | Rp30.000 |
| Minyak goreng | 3 liter | Rp16.000 | Rp17.000 | Rp18.000 | Rp19.000 |
| Biaya keranjang | — | Rp272.000 | Rp288.000 | Rp292.000 | Rp317.000 |
Laju inflasi adalah persentase perubahan biaya keranjang itu antara dua periode. Dari Periode 1 ke Periode 2, biayanya bergerak dari Rp272.000 menjadi Rp288.000, jadi selisih Rp16.000 dibagi Rp272.000 menghasilkan 0,0588 atau 5,88 persen.
Inflasi = (biaya baru − biaya lama) ÷ biaya lama × 100
(288.000 − 272.000) ÷ 272.000 × 100 = 5,88 persen
Indeks harga dengan Periode 1 sebagai tahun dasar:
Indeks = biaya periode itu ÷ biaya tahun dasar × 100
Periode 1 : 272.000 ÷ 272.000 × 100 = 100,00
Periode 3 : 292.000 ÷ 272.000 × 100 = 107,35
Periode 4 : 317.000 ÷ 272.000 × 100 = 116,54Indeks harga hanyalah biaya keranjang yang diskalakan, dengan tahun dasar ditetapkan bernilai 100. Ia tidak bersatuan, jadi angkanya lebih mudah dibandingkan antar-periode. Satu hal yang tetap perlu dijaga: laju inflasi dihitung sebagai persentase perubahan indeks, bukan sebagai selisih dua indeks.