Materi
Purdue OWL menegaskan setiap tokoh harus menginginkan sesuatu: tanpa tujuan, tokoh kehilangan motivasi dan tidak punya alasan berbuat apa-apa. Keinginan itu bisa besar atau kecil, tetapi harus ada. OpenLearn menambahkan bahwa penulis perlu mengenal kehidupan batin tokohnya — apa yang ia inginkan, takuti, impikan, kenang, dan sangkal — sehingga keputusan tokoh terasa tumbuh dari dalam, bukan ditempel dari luar.
Purdue OWL pada halaman Building & Revealing Characters menulis bahwa watak dibangun sepanjang cerita dan diungkap secara bertahap serta tidak langsung — lewat dialog dan aksi, bukan lewat pernyataan penulis. Pemilihan detail fisik dan lingkungan yang cermat membuat sebagian sifat tokoh terlihat tanpa penulis harus menyebutnya: kekacauan bisa tampak dari baju yang kusut atau kebiasaan terlambat, sifat tertutup dari buku yang selalu dibawa ke mana-mana. Satu detail yang terpilih baik bekerja lebih keras daripada sederet kata sifat.
Tokoh yang terlalu sempurna juga melemahkan cerita. Purdue OWL menulis tidak ada yang ingin membaca tentang tokoh yang sempurna, dan cacat tokoh harus tumbuh masuk akal dari keadaan hidupnya, bukan ditempelkan sembarangan. Membiarkan tokoh gagal pada sesuatu — besar atau kecil — membuatnya terasa nyata. Jadi watak diungkap dari apa yang tokoh inginkan, apa yang ia lakukan saat terhalang, dan di mana ia keliru.
| Sifat yang ingin disampaikan | Menyebut langsung (tell) | Mengungkap lewat aksi/detail (show) |
|---|---|---|
| Gugup | Dedi orang yang sangat gugup. | Dedi menata ulang pulpennya tiga kali dan menyeka telapak tangan ke celana. |
| Teliti | Pak Harun sangat teliti. | Pak Harun memeriksa tiap kuitansi dua kali sebelum menutup laci. |