Materi
Panduan istilah sastra Oregon State mendefinisikan sudut pandang (point of view) sebagai perspektif pembaca atas peristiwa dalam narasi. Orang pertama: cerita dituturkan oleh tokoh dengan kata "aku" atau "saya". Orang kedua: pembaca dijadikan tokoh dengan kata "kau" atau "kamu", dan ini jarang di fiksi karena membatasi pengembangan tokoh. Orang ketiga: pembaca mengamati dari luar dengan kata "ia", "dia", atau "mereka". Purdue OWL juga membagi fiksi ke tiga sudut pandang yang sama.
Oregon State membagi orang ketiga menjadi dua. Mahatahu memberi akses ke pikiran banyak tokoh; terbatas membatasi akses pada satu atau dua tokoh, dengan jarak psikologis yang bisa "dekat" (membuka pikiran pribadi tokoh) atau "jauh" (hanya yang teramati). Purdue OWL menambahkan bahwa pada orang ketiga, penulis memutuskan seberapa jauh ia masuk ke benak tokoh dan seberapa banyak masa lalu atau masa depan yang ia ketahui.
Sudut pandang yang terpilih harus dijaga. Cerita dengan orang ketiga terbatas pada satu tokoh tidak bisa tiba-tiba membuka pikiran tokoh lain; lompatan semacam itu — kadang disebut berpindah-pindah kepala — membingungkan pembaca karena melanggar aturan yang sudah dipasang cerita sendiri. Konsistensi bukan soal benar-salah selera, melainkan soal menjaga janji: jika pembaca hanya boleh tahu isi kepala Sita, ia tidak boleh mendadak tahu isi kepala orang di seberang meja.
| Sudut pandang | Ciri | Contoh |
|---|---|---|
| Orang pertama | Tokoh bercerita, memakai "aku". | Aku menahan napas saat pintu terbuka. |
| Orang kedua | Pembaca jadi tokoh, memakai "kau". | Kau melangkah masuk tanpa mengetuk. |
| Orang ketiga terbatas | Dari luar, terkunci pada satu tokoh. | Rudi merasakan perutnya mengencang. |
| Orang ketiga mahatahu | Dari luar, tahu banyak tokoh. | Semua orang di ruangan menyimpan rahasia. |