Materi
OpenLearn menempatkan latar (setting) sejajar dengan tokoh sebagai bahan cerita, dan menelusuri bagaimana tokoh dan tempat saling memengaruhi. Latar bukan sekadar panggung yang dipasang di belakang; cara seorang tokoh melihat sebuah ruangan ikut mengungkap siapa dia. MIT OpenCourseWare bahkan mencurahkan satu sesi khusus untuk Description dalam kelas cerita pendeknya.
Purdue OWL mengingatkan bahwa agar masuk ke dalam sebuah tulisan, pembaca harus bisa melihat, mendengar, mengecap, meraba, dan mencium hal-hal di sepanjang cerita. OWL menyarankan penulis bertanya apakah latar dilukis dengan jelas dan hidup, mendaftar detail yang terkait tiap adegan, dan membayangkan tiap adegan seperti adegan film. Latar yang hidup menyentuh indra, bukan hanya menyebut nama tempat.
Kuncinya pemilihan, bukan penimbunan. Purdue OWL menekankan pemilihan detail yang cermat; satu detail konkret yang tepat menghidupkan sebuah ruangan dan sekaligus bisa membangun suasana atau memberi firasat konflik. Daftar panjang yang netral — jumlah kursi, warna cat, ukuran lantai — justru membuat latar terasa datar. Detail yang paling berguna bekerja ganda: melukiskan tempat sambil menyiratkan sesuatu tentang cerita.
| Latar datar (daftar/umum) | Latar hidup (terpilih/indrawi) |
|---|---|
| Pasar itu ramai dan tempat orang berjualan. | Bau ikan asin dan knalpot bercampur di gang sempit, air got menggenang di antara keranjang cabai. |
| Ruang tamu itu punya tiga kursi dan satu meja. | Jam dinding berhenti di pukul tiga, debu tebal menutup foto keluarga yang terbalik di lantai. |