Materi
Panduan Oregon State menautkan alur ke Aristotle: sebuah aksi utuh yang punya awal, tengah, dan akhir. Kerangka awal-tengah-akhir inilah yang mendasari gagasan "tiga babak" yang banyak dipakai saat membicarakan cerita. Babak adalah cara mengelompokkan: pengenalan di awal, pergulatan di tengah, dan penyelesaian di akhir.
Oregon State menyebut Gustav Freytag secara eksplisit sebagai yang menggambarkan bagian-bagian drama sebagai sebuah piramida. Tahapnya: eksposisi dan insiden pemicu di awal; aksi menaik, klimaks, dan aksi menurun di tengah; resolusi di akhir — yang dalam gambar piramida berada sedikit lebih tinggi dari titik eksposisi. Eksposisi memperkenalkan tokoh, latar, dan awal konflik. Aksi menaik membangun ketegangan. Klimaks adalah titik ketegangan tertinggi. Aksi menurun melukiskan akibat klimaks, dan resolusi mengikat ujung-ujung yang longgar.
Insiden pemicu (inciting incident) adalah kejadian yang menyalakan konflik dan mengakhiri eksposisi. Sebelum ia datang, pembaca baru berkenalan dengan dunia tokoh; sesudahnya, tokoh tidak bisa lagi kembali ke keadaan semula. Mengenali insiden pemicu membantu penulis memastikan ceritanya mulai bergerak, bukan berputar di pengenalan. MIT OpenCourseWare memuat satu sesi tersendiri tentang Plot dalam kelas cerita pendeknya.
| Tahap Freytag | Fungsi |
|---|---|
| Eksposisi | Memperkenalkan tokoh, latar, dan awal konflik. |
| Insiden pemicu | Menyalakan konflik dan mengakhiri eksposisi. |
| Aksi menaik | Membangun ketegangan lewat rintangan. |
| Klimaks | Titik ketegangan tertinggi. |
| Aksi menurun & resolusi | Melukiskan akibat dan mengikat ujung yang longgar. |