Materi
Proyeksi laba rugi dimulai dari pendapatan. OpenStax menyebut penjualan sebagai pendorong utama proyeksi, karena banyak biaya, seperti bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan komisi, bergerak bersama penjualan. Pendapatan sendiri dipecah menjadi volume × harga, masing-masing dengan asumsi pertumbuhannya, sehingga pertanyaan "bagaimana kalau harga naik tetapi volume turun" cukup dijawab dengan mengubah dua sel.
Biaya lalu dipilah. Biaya variabel diproyeksikan sebagai persentase pendapatan. Biaya tetap, seperti sewa dan gaji manajer, tidak ikut berubah dengan penjualan dalam rentang normal; OpenStax memproyeksikannya dari nilai rupiah tahun lalu ditambah perubahan yang memang diketahui, misalnya kenaikan sewa yang sudah tertulis di kontrak.
Urutan barisnya mengikuti laporan laba rugi: pendapatan, HPP, laba kotor, beban operasi tunai, EBITDA, penyusutan, dan laba operasi (EBIT). Penyusutan diambil dari jadwal aset tetap di pelajaran berikutnya, tidak diketik ulang. Contoh klinik gigi di Makassar, dalam Rp juta:
| Pos | Cara proyeksi | 2027 |
|---|---|---|
| Kunjungan (ribu) | asumsi | 9,6 |
| Tarif rata-rata (Rp ribu) | asumsi | 350 |
| Pendapatan | kunjungan × tarif | 3.360 |
| Bahan habis pakai | 18% × pendapatan | 604,8 |
| Sewa ruko dan gaji tetap | nilai tahun lalu + kenaikan kontrak | 1.150 |
| EBITDA | pendapatan − bahan − biaya tetap | 1.605,2 |