Materi
Jendela waktu (window time) adalah janji temu untuk membongkar atau memuat barang di lokasi penerima. Introduction to Logistics Bab 3 mencatat bahwa pengangkut hanya diberi toleransi beberapa menit dari jendela itu; sopir yang terlambat harus menunggu sampai dok penerima kosong lagi, dan menunggu adalah biaya. Besar toleransi disepakati per penerima, jadi di soal angkanya ditulis.
Jadwal dihitung titik demi titik. Jam tiba = jam selesai di titik sebelumnya + waktu tempuh. Bila tiba sebelum jendela buka, sopir menunggu: jam mulai bongkar adalah yang lebih besar antara jam tiba dan jam buka. Jam selesai = jam mulai + lama bongkar. Di kelas ini sebuah titik terlambat bila jam tibanya melewati jam tutup jendela. Supaya bisa dihitung dengan aritmetika biasa, jam ditulis sebagai menit sejak pukul 00.00: pukul 08.30 = 510.
Tiba = selesai di titik sebelumnya + waktu tempuh
Mulai = MAX(tiba, jam buka)
Tunggu = mulai − tiba
Selesai = mulai + lama bongkar
Status = Terlambat bila tiba > jam tutupContoh di Yogyakarta: sopir berangkat 420 (07.00), tempuh 35 menit ke toko A, tiba 455. Jendela A 480–540, jadi ia menunggu 25 menit, mulai 480, bongkar 20 menit, selesai 500. Tempuh 50 menit ke toko B, tiba 550; jendela B 510–540 sudah tutup, jadi B terlambat.
Heuristik tetangga terdekat hanya melihat jarak; Contemporary Mathematics §12.9 menyebut ia memilih sisi berbobot terkecil di tiap langkah. Jendela waktu karena itu diperiksa sesudah urutan disusun. Bila ada titik yang terlambat, urutannya disusun ulang dan jadwalnya dihitung lagi.