Materi
Toko yang menjual ratusan jenis barang tidak bisa mengawasi semuanya dengan ketelitian yang sama. Buku Operations Management terbitan Saylor Academy menjelaskan analisis ABC sebagai cara menggolongkan persediaan berdasarkan kenyataan bahwa tidak semua barang sama nilainya. Barang kelas A bernilai paling tinggi dan diawasi paling ketat dengan catatan paling teliti; kelas B diawasi lebih longgar; kelas C diberi pengawasan dan catatan paling sederhana. Di kelas ini nilai tiap barang diukur sebagai nilai pemakaian setahun: permintaan setahun dikalikan harga pokok per unit.
Langkahnya empat. Pertama, hitung nilai setahun tiap barang. Kedua, urutkan dari nilai terbesar. Ketiga, hitung persen kumulatif: jumlah nilai dari baris teratas sampai baris itu, dibagi total nilai. Keempat, golongkan dengan batas persen. Batasnya ditentukan pemakai dan ditulis di soal; kelas ini tidak menetapkan satu batas untuk semua usaha.
Contoh empat barang yang sudah urut: nilai setahun Rp50 juta, Rp30 juta, Rp15 juta, dan Rp5 juta, total Rp100 juta. Persen kumulatifnya 50%, 80%, 95%, dan 100%. Dengan batas A sampai 60% dan B sampai 90%, barang pertama kelas A, kedua kelas B, dan dua sisanya kelas C.
Kumulatif: =SUM($D$2:D2)/$D$7 (awal rentang dikunci, ujungnya ikut turun)
Kelas: =IF(F2<=0.6,"A",IF(F2<=0.9,"B","C"))