Materi
Pada sistem perpetual, harga pokok dibebankan saat setiap penjualan terjadi, bukan di akhir periode. Untuk rata-rata tertimbang, OpenStax menunjukkan bahwa rata-ratanya harus dihitung ulang setiap kali ada pembelian: saldo rupiah dibagi saldo unit pada saat itu. Rata-rata yang terus diperbarui ini disebut rata-rata bergerak. Penjualan sesudahnya dibebankan dengan rata-rata terakhir, dan penjualan tidak mengubah rata-rata karena unit dan rupiah berkurang dengan perbandingan yang sama.
Kartu stok bernilai rupiah punya kolom tambahan: saldo rupiah, harga rata-rata, dan HPP barang keluar. Contoh: saldo awal 40 unit seharga Rp10.000. Terjual 25 unit, HPP Rp250.000, sisa 15 unit senilai Rp150.000. Dibeli 60 unit seharga Rp11.000, saldo menjadi 75 unit senilai Rp810.000 dan rata-rata baru Rp10.800. Terjual 50 unit, HPP Rp540.000, sisa 25 unit senilai Rp270.000.
HPP keluar: =D4*G3 (unit keluar × rata-rata baris sebelumnya)
Saldo rupiah: =F3+B4*C4-H4 (saldo lalu + nilai masuk − HPP keluar)
Rata-rata baru: =F4/E4 (saldo rupiah ÷ saldo unit)Pilihan metode mengubah angka laba walau barang dan harga jualnya sama. Ketika harga beli terus naik, FIFO membebankan lot-lot murah lebih dulu, sehingga harga pokok penjualannya paling rendah dan persediaan akhirnya paling tinggi; rata-rata tertimbang berada di antara. OpenStax juga mencatat metode ketiga, LIFO, yang membebankan lot terakhir lebih dulu — IFRS tidak mengizinkan LIFO, dan kelas ini tidak melatihnya.