Materi
Metode rata-rata tertimbang tidak memisahkan lot. Seluruh rupiah barang tersedia untuk dijual dibagi seluruh unit tersedia, dan hasilnya — harga pokok rata-rata per unit — dipakai untuk menilai barang terjual maupun barang tersisa. Disebut tertimbang karena tiap lot ikut menentukan rata-rata sebesar jumlah unitnya: lot 500 unit menarik rata-rata lebih kuat daripada lot 50 unit.
Urutannya tiga langkah. Pertama, rupiah tersedia dibagi unit tersedia. Kedua, persediaan akhir adalah unit tersisa dikalikan rata-rata itu. Ketiga, harga pokok penjualan adalah unit terjual dikalikan rata-rata, atau rupiah tersedia dikurangi persediaan akhir; keduanya harus sama. OpenStax mencatat bahwa angka akhirnya bisa berbeda satu-dua rupiah bila rata-ratanya dibulatkan lebih dulu, jadi pembulatan dikerjakan paling akhir.
Contoh memakai data pelajaran FIFO: tersedia 180 unit senilai Rp1.990.000, terjual 120 unit. Rata-ratanya 1.990.000 ÷ 180 = Rp11.055,56. Persediaan akhir 60 × 11.055,56 = Rp663.333 dan harga pokok penjualan Rp1.326.667. Dibanding FIFO pada data yang sama, harga pokok penjualannya lebih tinggi Rp56.667, karena lot murah awal tidak lagi dibebankan penuh lebih dulu.
Rata-rata per unit: =C6/B6 (rupiah tersedia ÷ unit tersedia)
Persediaan akhir: =(B6-B9)*C7 (unit tersisa × rata-rata)
1.990.000 ÷ 180 = 11.055,56