Materi
Portugis di bawah Alfonso de Albuquerque menguasai Malaka pada 1511, lalu masuk ke Maluku dan memusatkan kegiatannya di Ternate. Spanyol memasuki Maluku pada 1521 dan bekerja sama dengan Tidore. Persaingan keduanya diakhiri Perjanjian Saragosa, yang mengharuskan Spanyol meninggalkan Maluku. Armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman tiba di Banten pada 1596, dan pada 20 Maret 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda bergabung membentuk VOC. VOC dibubarkan pada 1799, lalu kekuasaannya diambil alih pemerintah Belanda.
Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808–1811) membangun jalan raya Anyer–Panarukan dengan kerja paksa. Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 menyerahkan kekuasaan Belanda di Hindia kepada Inggris, dan Thomas Stamford Raffles (1811–1816) memberlakukan sewa tanah. Pada 1830 Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memberlakukan Tanam Paksa (cultuurstelsel). Sejarah untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI dan IPS Kelas VIII menulis sebab langsungnya: kesulitan keuangan pemerintah kolonial akibat Perang Jawa. Pada 1870 terbit Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) yang mengatur politik tanah di negeri jajahan.
| Tahun | Peristiwa | Tokoh |
|---|---|---|
| 1511 | Portugis menguasai Malaka | Alfonso de Albuquerque |
| 1521 | Spanyol memasuki Maluku, bekerja sama dengan Tidore | — |
| 1596 | Armada Belanda tiba di Banten | Cornelis de Houtman |
| 20 Maret 1602 | VOC dibentuk | — |
| 1799 | VOC dibubarkan | — |
| 1808–1811 | Jalan raya Anyer–Panarukan | Herman Willem Daendels |
| 18 September 1811 | Kapitulasi Tuntang: kekuasaan pindah ke Inggris | — |
| 1811–1816 | Sewa tanah (land rent) | Thomas Stamford Raffles |
| 1830 | Tanam Paksa | Johannes van den Bosch |
| 1870 | Undang-Undang Agraria | — |