Materi
Di Ternate, Sultan Khairun dibunuh Portugis; putranya, Sultan Baabullah, meneruskan perlawanan sampai Portugis terusir dari Ternate. Sultan Agung dari Mataram menyerang VOC di Batavia pada 1628 dan sekali lagi pada 1629; keduanya gagal. Di Sulawesi Selatan, perang Gowa-Tallo di bawah Sultan Hasanuddin melawan VOC pimpinan Cornelis Speelman berakhir dengan Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667, yang membatasi wilayah Gowa dan memperkuat kedudukan VOC.
Pada abad ke-19, Pattimura merebut Benteng Duurstede di Saparua pada 1817. Kaum Padri di Minangkabau berperang melawan Belanda sejak 1821, dan Benteng Bonjol jatuh pada 1837. Perang Diponegoro meletus pada 20 Juli 1825 dan berakhir setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Magelang pada 1830. Di Bali, pasukan Buleleng bertahan di Benteng Jagaraga. Pangeran Antasari memimpin Perang Banjar di Kalimantan sejak 1859, Belanda menyerang Aceh pada 1873, dan perlawanan Sisingamangaraja XII di Tapanuli berlangsung sampai 1907.
| Tokoh | Perlawanan dan daerah | Tahun yang sama di dua sumber |
|---|---|---|
| Sultan Baabullah | Melawan Portugis, Ternate | — |
| Sultan Agung | Menyerang VOC di Batavia | 1628 dan 1629 |
| Sultan Hasanuddin | Gowa-Tallo melawan VOC, berakhir dengan Perjanjian Bongaya | 18 November 1667 |
| Pattimura | Merebut Benteng Duurstede, Saparua | 1817 |
| Tuanku Imam Bonjol | Perang Padri, Minangkabau | Mulai 1821; Benteng Bonjol jatuh 1837 |
| Pangeran Diponegoro | Perang Jawa | 20 Juli 1825 – 1830 |
| Pangeran Antasari | Perang Banjar, Kalimantan | Mulai 1859 |
| Sisingamangaraja XII | Perang Batak, Tapanuli | Sampai 1907 |