Materi
Sumber utama kerajaan Hindu-Buddha tertua adalah prasasti. Buku Sejarah Indonesia Kelas X (2017) dan modul Direktorat SMA (2020) sama-sama mencatat yupa dari Kutai: prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta dari masa Raja Mulawarman, yang menyebut kakeknya, Kudungga, dan sedekah 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Prasasti Ciaruteun dari Tarumanegara memuat telapak kaki Raja Purnawarman. Prasasti Sriwijaya berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno; Prasasti Kedukan Bukit menyebut Dapunta Hyang.
Di Jawa Tengah, Prasasti Canggal berangka tahun 654 Saka atau 732 M menyebut Raja Sanjaya. Kedua sumber mengaitkan Candi Borobudur yang bercorak Buddha dengan Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Di Jawa Timur, Ken Arok mengalahkan Kertajaya dari Kediri di Ganter pada 1222 M, dan Kertanegara dari Singhasari mengirim Ekspedisi Pamalayu pada 1275. Raden Wijaya membuka hutan yang kemudian dinamai Majapahit. Majapahit mencapai puncak pada masa Hayam Wuruk (1350–1389) bersama Patih Gajah Mada, dan Kitab Negarakertagama ditulis pada 1365.
| Kerajaan | Sumber atau peninggalan | Tokoh | Tahun yang sama di dua sumber |
|---|---|---|---|
| Kutai | Prasasti yupa | Mulawarman, kakeknya Kudungga | Tidak berangka tahun |
| Tarumanegara | Prasasti Ciaruteun (telapak kaki) | Purnawarman | Tidak berangka tahun |
| Sriwijaya | Prasasti Kedukan Bukit | Dapunta Hyang | Berbeda antarbuku, tidak dipakai |
| Mataram Kuno | Prasasti Canggal; Candi Borobudur | Sanjaya; Samaratungga (Syailendra) | 732 M (Canggal) |
| Singhasari | Pertempuran Ganter; Ekspedisi Pamalayu | Ken Arok; Kertanegara | 1222; 1275 |
| Majapahit | Kitab Negarakertagama | Hayam Wuruk, Patih Gajah Mada | Hayam Wuruk 1350–1389; Negarakertagama 1365 |