Materi
James McCroskey, yang dikutip Stand up, Speak out, mendefinisikan kecemasan komunikasi (communication apprehension) sebagai rasa takut atau cemas yang terkait dengan komunikasi dengan orang lain, baik yang sedang terjadi maupun yang baru dibayangkan. Gejalanya fisik: jantung berdebar, telapak berkeringat, mulut kering, suara bergetar. Buku itu menegaskan kecemasan semacam ini wajar, juga dialami pembicara berpengalaman, dan penelitian yang dikutipnya menemukan pendengar tidak menangkap kegugupan setinggi yang dirasakan pembicaranya.
Bagian 3.3 membedakan empat jenis. Kecemasan sifat (trait) terbawa di hampir semua situasi komunikasi. Kecemasan konteks dipicu situasi yang formal, tidak pasti, atau baru. Kecemasan audiens dipicu ciri pendengarnya, misalnya status mereka sebagai atasan atau ukuran kelompoknya. Kecemasan situasional dipicu gabungan khas audiens, waktu, dan tempat.
Penelitian yang dikutip Bagian 3.4 mengukur empat tahap: antisipasi (semenit sebelum mulai), konfrontasi (menit pertama), adaptasi (menit terakhir), dan pelepasan (semenit sesudah selesai). Kecemasan memuncak di tahap antisipasi lalu menurun. Teknik yang disebut buku: restrukturisasi kognitif, yaitu mengganti label negatif dengan yang positif; bicara-diri positif; persiapan dengan kerangka; latihan bersuara sambil berdiri; napas dalam; visualisasi positif; dan desensitisasi sistematis.
| Pikiran sebelum tampil | Setelah restrukturisasi kognitif |
|---|---|
| "Tangan saya gemetar, pasti semua orang melihat." | "Tubuh saya sedang menyiapkan tenaga untuk tampil." |
| "Kalau salah sebut satu angka, habis sudah." | "Salah sebut bisa diralat, lalu saya lanjut." |