Dua bentuk penalaran keliru muncul berulang karena bunyinya mirip aturan yang sah. Menegaskan akibat berjalan seperti ini: 'jika p maka q' benar, q benar, lalu disimpulkan p benar. Mengingkari sebab berjalan sebaliknya: 'jika p maka q' benar, p salah, lalu disimpulkan q salah. Keduanya tidak sah.
Contoh tandingannya mudah dibayangkan. Kalimat 'jika server mati, situs tidak dapat dibuka' dapat benar, sementara situs tidak dapat dibuka karena kabel jaringannya lepas. Akibat yang sama dapat lahir dari sebab yang berbeda, sehingga menemukan akibat tidak membuktikan sebabnya. Dengan alasan yang sama, sebab yang tidak terjadi tidak menjamin akibatnya batal.
Kedua kesalahan ini mahal di pekerjaan pemeriksaan dan penelusuran gangguan. Pemeriksa yang menemukan selisih kas lalu langsung menyimpulkan ada penggelapan sedang menegaskan akibat; teknisi yang memastikan listrik menyala lalu menyatakan mesin pasti berjalan sedang mengingkari sebab. Yang sah hanya dua arah: dari sebab benar menuju akibat benar, dan dari akibat salah menuju sebab salah.
Aturan: jika kartu akses dinonaktifkan, pintu gudang menolak kartu itu.
Fakta : pintu gudang menolak kartu Rina.
Keliru : kartu Rina pasti dinonaktifkan. (menegaskan akibat)
Sebab lain yang mungkin: pembaca kartu rusak, atau kartunya tergores.
Yang sah: kalau pintu menerima kartu Rina, kartu itu tidak dinonaktifkan.