Sebuah penarikan simpulan disebut sah bila tidak ada satu pun keadaan yang membuat seluruh premisnya benar sementara simpulannya salah. Kesahihan diperiksa pada bentuk, bukan pada isi. Penalaran dapat berakhir pada simpulan yang kebetulan benar namun tetap tidak sah, dan penalaran yang sah dapat berakhir pada simpulan salah bila salah satu premisnya salah.
Bentuk yang sering lolos tanpa diperiksa adalah 'semua A termasuk B, x termasuk B, jadi x termasuk A'. Kalimat 'semua pengemudi taksi memegang SIM A, Bu Yuli memegang SIM A, jadi Bu Yuli pengemudi taksi' memakai bentuk itu. Premisnya dapat benar seluruhnya sementara simpulannya salah, karena kelompok B lebih luas daripada kelompok A.
Pemisahan antara kesahihan dan kebenaran dipakai saat menilai laporan atau usulan. Pertanyaan pemeriksanya ada dua dan dijawab berurutan: apakah premisnya benar, dan apakah bentuk penalarannya memaksa simpulan itu. Kedua pertanyaan harus dijawab terpisah, karena premis yang benar tidak menambal bentuk yang bocor.
Premis 1: semua paket kilat dikirim pada hari yang sama.
Premis 2: paket milik Rina dikirim pada hari yang sama.
Simpulan: paket milik Rina adalah paket kilat.
Uji: mungkinkah kedua premis benar sementara simpulannya salah?
Ya, bila ada paket biasa yang kebetulan dikirim pada hari yang sama.
Karena keadaan itu mungkin, penarikan simpulannya tidak sah.