Materi
APA Style memakai sistem penulis–tahun. Setiap karya yang dirujuk punya dua bagian yang saling menunjuk: sitasi di dalam teks, misalnya (Hapsari, 2019), dan satu entri di daftar pustaka yang memuat data lengkap karya itu. Pembaca melihat nama dan tahun di kalimat, lalu mencari nama itu di daftar pustaka yang diurutkan menurut abjad. Karena itu APA menetapkan setiap sitasi dalam teks menunjuk tepat satu entri, dan tahun di sitasi sama dengan tahun di entrinya.
Daftar pustaka (reference list) berbeda dari bibliografi. APA menjelaskan daftar pustaka hanya berisi karya yang benar-benar mendukung gagasan dan klaim di tulisan, sedangkan bibliografi memuat bacaan latar atau bacaan lanjutan dan bisa disertai catatan. Halaman penyusunan daftar pustaka APA meminta dua pemeriksaan silang: semua karya yang disitasi ada di daftar, dan semua karya di daftar disitasi di teks. Pengecualiannya komunikasi pribadi, misalnya surel, yang tidak bisa diambil ulang pembaca sehingga hanya disitasi di teks.
Sumber sekunder adalah sumber yang melaporkan isi yang pertama kali terbit di sumber lain. APA meminta sumber aslinya dicari, dibaca, dan disitasi langsung bila mungkin. Bila benar-benar tidak terjangkau, misalnya sudah tidak dicetak, tulis sumber aslinya di teks lalu frasa as cited in dan sumber yang kamu baca. Hanya sumber yang kamu baca yang masuk daftar pustaka. Padanan bahasa Indonesia untuk frasa itu ditetapkan pedoman kampus.
Teks (karangan):
Survei itu mencatat separuh kantor desa belum punya lemari arsip (Nugroho, 2015, as cited in Lestari, 2020).
Daftar pustaka: hanya entri Lestari (2020).
Entri Nugroho (2015) tidak ditulis, karena karya itu tidak kamu baca sendiri.