Materi
KBBI mengartikan majas sebagai cara melukiskan sesuatu dengan menyamakannya dengan sesuatu yang lain, atau kiasan. Simile membandingkan dua hal yang berbeda secara eksplisit dengan kata seperti, bagai, atau laksana. Metafora memakai kata bukan dengan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan berdasarkan persamaan, seperti tulang punggung negara. Personifikasi mengumpamakan benda mati sebagai manusia. Metonimia memakai nama ciri sebagai pengganti benda, seperti menelaah Chairil Anwar untuk karyanya. Hiperbol adalah ungkapan yang dibesar-besarkan untuk efek tertentu.
KBBI mengartikan citraan sebagai cara membentuk citra mental atau gambaran sesuatu. Nurweni Saptawuryandari dari Badan Bahasa, dalam jurnal Kandai (2013), menggolongkan citraan menjadi citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, rabaan, gerak, dan pikiran, lalu menganalisis puisi Chairil Anwar (1922–1949) dengan golongan itu. Di sana jendela yang menyerahkan kamar dalam “Pada Sebuah Kamar” dibaca sebagai citraan gerak.
Menjelaskan ketepatan kiasan berarti menyebut apa yang diperjelas kiasan itu dalam konteks larik di sekitarnya, bukan arti harfiahnya. Kata pembanding bak dalam “Bak kembang sari sudah terbagi” menandai simile, dan larik sebelumnya, “Kutahu kau bukan yang dulu lagi”, menunjukkan apa yang dibandingkan.
Kutipan “Penerimaan” — Chairil Anwar
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi