Laporan laba bertahap menurunkan penjualan menjadi laba lewat dua pengurangan. Pengurangan pertama adalah harga pokok penjualan, hasilnya laba kotor. Pengurangan kedua adalah biaya operasional — biaya harian yang tidak menempel langsung pada barangnya, seperti sewa, gaji kantor, dan iklan — hasilnya laba operasi.
Dua marjin lahir dari dua laba itu. Marjin kotor adalah laba kotor dibagi penjualan, dan OpenStax menyebutnya rasio yang menunjukkan berapa bagian penjualan yang tersisa di atas harga pokok untuk menutup biaya operasional dan laba. Marjin bersih adalah laba operasi dibagi penjualan; di bab pengukuran kinerja, angka itu disebut sales margin dan dipakai sebagai salah satu bagian pembentuk ROI.
Contoh langkah demi langkah sebuah toko daring. Langkah pertama, penjualan Rp120.000.000 dikurangi harga pokok penjualan Rp78.000.000 menghasilkan laba kotor Rp42.000.000. Langkah kedua, marjin kotor 42.000.000 ÷ 120.000.000 = 0,35. Langkah ketiga, laba kotor dikurangi biaya operasional Rp26.400.000 menghasilkan laba operasi Rp15.600.000. Langkah keempat, marjin bersih 15.600.000 ÷ 120.000.000 = 0,13.
120.000.000 − 78.000.000 = 42.000.000 → marjin kotor 42/120 = 0,35
42.000.000 − 26.400.000 = 15.600.000 → marjin bersih 15,6/120 = 0,13Marjin kotor bukan marjin kontribusi. Pemisahnya berbeda: marjin kotor memisahkan biaya barang dari biaya lain, sedangkan marjin kontribusi memisahkan biaya yang bergerak mengikuti volume dari biaya yang tidak. Gaji penjaga toko yang tetap masuk biaya operasional di marjin kotor, tetapi tidak pernah masuk biaya variabel di marjin kontribusi.