ROI mengukur hasil terhadap modal yang ditanam: laba dibagi modal yang dipakai menghasilkannya, ditulis sebagai persen. Karena berbentuk persen, ROI bisa membandingkan dua penanaman modal yang besarnya jauh berbeda — sesuatu yang tidak bisa dilakukan angka laba dalam rupiah saja.
Masa balik modal menjawab pertanyaan lain: berapa lama sampai modal yang dikeluarkan kembali. Untuk arus kas bersih yang rata tiap periode, rumusnya modal awal dibagi arus kas bersih per periode. OpenStax menyebutnya metode tanpa nilai waktu uang, dan menegaskan batasnya — metode ini hanya menghitung lamanya, tanpa memandang apa pun yang terjadi setelah modalnya kembali.
Contoh langkah demi langkah. Sebuah kedai membeli mesin kopi Rp48.000.000 yang menghasilkan arus kas bersih Rp1.600.000 per bulan. Langkah pertama, masa balik modal 48.000.000 ÷ 1.600.000 = 30 bulan. Langkah kedua, arus kas setahun 1.600.000 × 12 = 19.200.000. Langkah ketiga, ROI setahun 19.200.000 ÷ 48.000.000 = 0,40 atau 40%.
48.000.000 ÷ 1.600.000 = 30 bulan (masa balik modal)
1.600.000 × 12 = 19.200.000 (arus kas bersih setahun)
19.200.000 ÷ 48.000.000 = 0,40 → 40% (ROI setahun)Dua angka itu bisa menunjuk arah berlawanan. Penanaman modal kecil yang balik cepat bisa punya ROI lebih rendah daripada penanaman modal besar yang balik lambat, dan keduanya tetap benar karena mengukur hal berbeda: yang satu lamanya, yang satu hasilnya per rupiah modal.