Materi
Lima mengapa adalah kebiasaan bertanya "mengapa" berulang setiap kali masalah muncul, sampai melewati gejala dan menemukan akar masalahnya. Lean Enterprise Institute dan EPA memuat contoh Taiichi Ohno tentang mesin yang berhenti:
- Mengapa mesin berhenti? Ada beban lebih dan sekringnya putus.
- Mengapa ada beban lebih? Bantalan kurang pelumas.
- Mengapa kurang pelumas? Pompa pelumas tidak memompa cukup.
- Mengapa pompa tidak memompa cukup? Porosnya aus dan bergetar.
- Mengapa porosnya aus? Tidak ada saringan, sehingga serpihan logam masuk.
Tanpa bertanya berulang, sekring atau pompa yang diganti dan kerusakan muncul lagi. Lembaga itu juga menegaskan bahwa angka lima bukan intinya; yang penting terus bertanya sampai akar masalah ditemukan dan dihilangkan.
Penanggulangan untuk akar masalah sering berupa poka-yoke, istilah Jepang untuk pencegah salah. EPA mendefinisikannya sebagai mekanisme sederhana yang membuat kesalahan mustahil, atau setidaknya mudah dideteksi dan diperbaiki, dalam dua golongan: alat pencegahan, yang membuat mesin atau operator tidak mungkin keliru (tuas persneling yang terkunci sampai rem diinjak), dan alat deteksi, yang memberi tanda ketika kesalahan sudah terjadi (bunyi peringatan kunci tertinggal di kontak). Lima mengapa untuk penyelidikan insiden dibahas di kelas K3 Dasar.