Materi
Buku Pendidikan Pancasila Kelas X menelusuri semboyan Bhinneka Tunggal Ika ke Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, pujangga Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk. Kata-katanya berasal dari bahasa Jawa Kuno: bhinneka berarti berbeda atau beragam, tunggal berarti satu, ika berarti itu. Dalam kakawin itu, kalimat tersebut menyatakan kesatuan dan toleransi antara penganut Buddha dan Hindu. Kini semboyan itu tertulis pada pita yang dicengkeram Garuda Pancasila, dan Pasal 36A berbunyi “Lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.”
Secara kontekstual, semboyan ini memuat dua unsur. Keberagaman adalah kenyataan masyarakat Indonesia: beragam ras, suku, budaya, adat istiadat, bahasa, dan agama. Kesatuan adalah cita-cita dan tujuan berbangsa, yang dicapai lewat persatuan, kerja sama, gotong royong, dan saling menghormati.
Gotong royong menjadi modal sosial yang merekatkan masyarakat majemuk. Buku yang sama mengutip Koentjaraningrat: gotong royong tolong-menolong bersifat individual, seperti membantu tetangga membangun rumah atau menyiapkan hajatan, sedangkan gotong royong kerja bakti dilakukan untuk kepentingan umum, seperti memperbaiki jalan desa. Dalam ekonomi, Pasal 33 ayat (1) menyatakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
| Kegiatan (karangan) | Jenis gotong royong menurut Koentjaraningrat |
|---|---|
| Tetangga membantu keluarga yang berduka menyiapkan upacara pemakaman | Tolong-menolong |
| Warga satu RW membersihkan saluran air kampung | Kerja bakti |
| Warga memperbaiki jalan desa yang rusak | Kerja bakti |