Materi
Business Ethics Bagian 2.5 menjelaskan bahwa Immanuel Kant tidak berfokus pada akibat tindakan, tetapi pada motif: melakukan sesuatu dengan alasan yang benar lebih penting daripada hasilnya. Sistem ini disebut deontologi, dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban, dan di dalamnya kewajiban, keharusan, dan niat baik paling utama. Stanford Encyclopedia of Philosophy (entri Deontological Ethics) menempatkan deontologi sebagai lawan konsekuensialisme.
Inti ajaran Kant adalah imperatif kategoris, kewajiban yang tanpa syarat: bertindaklah hanya menurut maksim yang sekaligus bisa kamu kehendaki menjadi hukum universal. Bagian 2.5 menurunkan dua anggapan darinya: bertindak atas niat baik, bukan kepentingan diri yang merugikan orang lain; dan jangan pernah memperlakukan orang lain sekadar sebagai alat bagi tujuan kita tanpa memandang mereka juga sebagai tujuan. Introduction to Business 2e Bagian 2.1 mencatat keputusan deontologis konsisten, tetapi bisa buntu bila dua kewajiban bertabrakan.
Pendekatan hak dekat dengan gagasan itu. Stanford Encyclopedia of Philosophy (entri Rights) merumuskan hak sebagai hak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, atau hak agar orang lain melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Principles of Management Bagian 5.3 membedakan hak hukum, yang terbatas pada satu sistem hukum dan yurisdiksi, dari hak moral atau hak asasi, yang universal. Lensa hak Markkula menyebut tindakan etis sebagai tindakan yang paling melindungi hak moral mereka yang terdampak, karena manusia bermartabat dan berhak diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat.
| Alasan yang dipakai pengelola hotel | Teori |
|---|---|
| "Kita tetap mengembalikan dompet tamu karena itu kewajiban kita, meski tamunya tidak akan tahu." | Deontologi |
| "Tamu berhak atas kerahasiaan data kamarnya." | Pendekatan hak |
| "Diskon ini menyenangkan lebih banyak tamu daripada yang dirugikan." | Utilitarianisme |