Materi
Business Ethics Bagian 2.1 menyebut etika keutamaan sebagai sistem etika yang bertumpu pada pelaksanaan keutamaan seperti kesetiaan, kehormatan, dan keberanian, dengan menekankan pembentukan watak. Tokoh utamanya di Barat adalah Aristoteles. Baginya segala sesuatu punya tujuan akhir (telos), dan tujuan akhir manusia adalah eudaimonia, yang ia maksudkan bukan sekadar senang, melainkan berkembangnya manusia secara utuh. Eudaimonia dicapai lewat hidup berkeutamaan yang dibangun dari waktu ke waktu.
Aristoteles membagi keutamaan menjadi dua. Keutamaan intelektual, seperti pengetahuan, kebijaksanaan, dan terutama phronesis atau kebijaksanaan praktis, diperoleh lewat belajar. Keutamaan moral, seperti keberanian, pengendalian diri, dan kemurahan hati, diperoleh lewat latihan dan kebiasaan. Tindakan mendahului watak: orang menjadi berani karena berulang kali bertindak berani.
Stanford Encyclopedia of Philosophy (entri Virtue Ethics) menyebutnya satu dari tiga pendekatan utama etika normatif: pendekatan yang menekankan keutamaan atau watak, berbeda dari deontologi yang menekankan kewajiban atau aturan dan konsekuensialisme yang menekankan akibat. Principles of Management Bagian 5.3 merumuskan fokusnya sebagai orang seperti apa kita seharusnya, bukan tindakan spesifik mana yang harus diambil. Lensa keutamaan Markkula bertanya: aku akan menjadi orang seperti apa bila melakukan ini?
| Teori | Pertanyaan pokoknya |
|---|---|
| Utilitarianisme | Akibat mana yang paling banyak manfaat bersihnya? |
| Deontologi | Apa kewajibanku, dan bisakah maksimku menjadi hukum universal? |
| Etika keutamaan | Watak apa yang terbentuk bila aku melakukan ini? |