Materi
Business Ethics Bagian 2.4 memperkenalkan utilitarianisme dari Jeremy Bentham: seluruh moral sosial dan undang-undang mestinya menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Teori ini menekankan akibat sebuah tindakan, bukan watak, motif, atau keadaan pelakunya. Karena itu utilitarianisme digolongkan sebagai teori konsekuensialis. Stanford Encyclopedia of Philosophy (entri Consequentialism) merumuskan konsekuensialisme sebagai pandangan bahwa sifat normatif hanya bergantung pada konsekuensi.
John Stuart Mill memadukan utilitas dengan hak lewat prinsip kerugian (harm principle): kekuasaan atas seseorang di luar kehendaknya hanya sah untuk mencegah kerugian bagi orang lain, bukan demi kebaikan orang itu sendiri. Bagian 2.4 juga mencatat bahwa dalam bisnis, analisis biaya-manfaat adalah penentuan utilitarian, tetapi baru utuh bila menghitung semua pemangku kepentingan dan eksternalitas.
Principles of Management Bagian 5.3 memberi rumusan yang bisa dihitung: sebuah tindakan benar secara moral bila manfaat bersihnya, yaitu manfaat dikurangi biaya bagi semua yang terdampak, paling besar dibanding semua pilihan lain. Buku yang sama mencatat keterbatasannya: biaya dan manfaat sulit diukur, dan teori ini tidak memperhatikan individu. Introduction to Business 2e Bagian 2.1 menambahkan bahwa utilitarianisme selalu menghasilkan pihak yang menang dan pihak yang kalah.
| Pilihan usaha katering (skor karangan) | Manfaat | Biaya | Manfaat bersih |
|---|---|---|---|
| Pindah dapur ke pinggir kota | 90 | 60 | 30 |
| Tambah shift malam | 110 | 95 | 15 |
| Beli oven hemat listrik | 70 | 25 | 45 — terbesar |