Harga beli hanya bagian pertama. Biaya kepemilikan = harga beli + biaya pemakaian selama masa pakai. Barang murah yang boros bisa berakhir lebih mahal daripada barang mahal yang hemat, dan urutannya berbalik pada titik tertentu.
Contoh langkah demi langkah: lampu A seharga Rp25.000 berdaya 20 watt, lampu B seharga Rp70.000 berdaya 8 watt, keduanya menyala 4 jam sehari selama 365 hari, dengan harga listrik karangan Rp1.500 per kWh. Lampu A memakai 20 × 1.460 ÷ 1.000 = 29,2 kWh, yaitu Rp43.800 setahun, sehingga tahun pertamanya Rp68.800. Lampu B memakai 8 × 1.460 ÷ 1.000 = 11,68 kWh, yaitu Rp17.520, sehingga tahun pertamanya Rp87.520. Pada tahun kedua, A menjadi Rp112.600 dan B menjadi Rp105.040: urutannya berbalik.
biaya kepemilikan = harga beli + biaya per periode × banyak periode
periode impas = selisih harga beli ÷ selisih biaya per periode
45.000 ÷ 26.280 ≈ 1,71 tahunTitik balik itu dicari dengan satu pembagian: selisih harga beli dibagi selisih biaya per periode. Hasilnya sering pecahan, dan karena pembayaran terjadi per periode utuh, angkanya dibulatkan ke atas dengan ROUNDUP. Rumus ini hanya berlaku bila pilihan yang lebih mahal di awal memang lebih hemat per periode; bila tidak, tidak ada titik impas sama sekali.