Setiap pembulatan membuang sebagian nilai, dan bagian yang dibuang itu disebut galat. Satu pembulatan galatnya kecil dan tidak terasa. Yang menjadi masalah adalah ketika nilai yang sudah dibulatkan dipakai lagi untuk menghitung, atau dijumlahkan berkali-kali: galatnya ikut terbawa dan bertambah sebanyak baris yang dijumlahkan.
Besarnya diukur dengan dua ukuran baku. Galat mutlak adalah selisih antara nilai hasil pembulatan dan nilai sebenarnya. Galat relatif adalah galat mutlak dibagi nilai sebenarnya, dan itulah yang menentukan apakah selisihnya berarti: selisih seratus rupiah pada tagihan lima juta berbeda artinya dengan selisih seratus rupiah pada tagihan seribu rupiah.
Aturan kerja yang menghindarinya ada dua dan keduanya setara: simpan nilai penuh sepanjang perhitungan dan bulatkan hanya sekali di akhir, atau bulatkan sejak awal dan pakai angka yang sudah dibulatkan itu untuk semua langkah berikutnya termasuk totalnya. Yang menimbulkan selisih adalah mencampur keduanya, yakni membulatkan tampilan tiap baris tetapi menjumlahkan nilai penuhnya.
Tagihan 100.000 dibagi rata ke 3 orang
Langkah 1 — nilai penuh : 100.000 : 3 = 33.333,333...
Langkah 2 — bulatkan ke rupiah: tiap orang membayar 33.333
Langkah 3 — jumlahkan yang dibayar: 33.333 x 3 = 99.999
Langkah 4 — galat mutlak : 100.000 - 99.999 = 1 rupiah
Langkah 5 — galat relatif : 1 : 100.000 = 0,00001 = 0,001%
Harga satuan 3.333,33 dibulatkan jadi 3.333, dipakai untuk 300 potong:
galat per potong 0,33 -> galat total 0,33 x 300 = 99 rupiah