Ketika selisih dua suku berurutan tidak tetap, langkah berikutnya adalah mengambil selisih dari barisan selisih itu. Susunan bertingkat ini disebut tabel selisih. Bila selisih tingkat kedua tetap, barisan aslinya mengikuti aturan berderajat dua terhadap nomor sukunya; bila selisih tingkat ketiga yang tetap, derajatnya tiga, dan seterusnya. Meramal suku berikutnya lalu dikerjakan dari bawah ke atas: tambahkan selisih tetap itu untuk mendapat selisih tingkat satu berikutnya, lalu tambahkan hasilnya ke suku terakhir.
Jenis kedua adalah pola berselang-seling, yaitu dua barisan yang disisipkan bergantian. Cirinya terlihat di tabel selisih sebagai selisih yang berganti-ganti antara dua nilai tanpa pernah mengecil menuju tetap. Penanganannya bukan menambah tingkat, melainkan memisahkan: suku di posisi ganjil dikumpulkan sendiri, suku di posisi genap dikumpulkan sendiri, lalu masing-masing diperiksa sebagai barisan tersendiri.
Kedua alat ini dipakai juga di luar ruang tes, misalnya membaca kolom penjualan bulanan: selisih tingkat kedua yang tetap menandai pertumbuhan yang melaju tetap, sedangkan pola berselang-seling menandai dua musim yang bergantian.
Tabel selisih untuk 3, 7, 15, 27, 43, ...
suku : 3 7 15 27 43
selisih tk. 1 : 4 8 12 16
selisih tk. 2 : 4 4 4
Selisih tingkat 2 tetap 4, jadi selisih tingkat 1 berikutnya
adalah 16 + 4 = 20, dan suku berikutnya 43 + 20 = 63.
Pola berselang-seling 3, 10, 6, 20, 12, 40, ...
posisi ganjil : 3, 6, 12 -> dikali 2 tiap langkah
posisi genap : 10, 20, 40 -> dikali 2 tiap langkah
suku berikutnya ada di posisi ganjil: 12 x 2 = 24