Materi
KBBI mengartikan koheren sebagai berhubungan atau bersangkut paut. Badan Bahasa menyebut paragraf padu bila kalimat-kalimatnya serasi hubungannya, dan keserasian itu dibangun alat kohesi. Alat kohesi gramatikal meliputi konjungsi, referensi, kesejajaran struktur, dan pelesapan; alat kohesi leksikal meliputi sinonimi, antonimi, hiponimi, meronimi, dan pengulangan. Kalimat yang tidak disambungkan alat mana pun ke kalimat lain terasa melompat.
Keruntutan menyangkut urutan. Badan Bahasa menyebut beberapa model urutan informasi: urutan tempat, waktu, khusus-umum, tingkat, sebab-akibat, dan tanya-jawab. Buku Literacy for College Success di LibreTexts menambahkan bahwa pola susunan seorang penulis — kronologis, proses, sebab-akibat, atau bandingan — terlihat dari kata transisi yang dipakainya. Pada soal menyusun kalimat acak, penanda inilah pegangannya: kalimat yang diawali selanjutnya, hal itu, atau kata ganti tidak dapat menjadi pembuka, karena ia mengacu pada sesuatu sebelumnya.
Syarat lain adalah konsistensi sudut pandang. Badan Bahasa menyebut penulis yang sudah memilih menyapa pembaca dengan Anda atau kita harus mempertahankannya dari awal sampai akhir; paragraf yang berpindah dari Anda ke pengguna atau para pembaca di tengah jalan kehilangan keajekannya.
Contoh
Empat kalimat acak: (a) “Setelah itu, surat diberi nomor dan dicatat di buku agenda.” (b) “Surat masuk di kantor kelurahan melewati tiga tahap.” (c) “Pertama, petugas memeriksa alamat dan tanggal surat.” (d) “Terakhir, surat diteruskan kepada pejabat yang dituju.” Kalimat (b) tidak mengacu pada apa pun sebelumnya, jadi pembuka. Pertama, setelah itu, dan terakhir menyusun sisanya: b-c-a-d.