Materi
Kerangka PISA 2018 menggolongkan laporan dan berita ke tipe narasi, yaitu teks tentang peristiwa dalam waktu yang menjawab kapan dan dalam urutan apa. Laporan mencatat tindakan dan peristiwa dari sudut pandang objektif, yang dapat diperiksa orang lain. Berita dimaksudkan agar pembaca dapat membentuk pendapatnya sendiri tentang fakta dan peristiwa tanpa dipengaruhi pandangan wartawannya. Badan Bahasa menyebut hal yang sejalan untuk paragraf eksposisi berbentuk laporan: penulisnya ingin menyampaikan informasi kepada pembaca secara objektif.
Di dalam berita ada dua suara: wartawan dan narasumber yang dikutipnya. Kalimat “Kepala desa mengatakan jembatan itu paling penting” memuat dua lapis. Bahwa kepala desa mengatakannya adalah fakta, karena dapat diperiksa lewat rekaman atau saksi. Isi ucapannya, paling penting, adalah opini narasumber — dalam KBBI, pendapat atau pendirian. Buku Literacy for College Success di LibreTexts meminta pembaca menanyakan siapa sumber sebuah opini dan apa kepentingannya, karena tidak semua opini sama bobotnya.
Buku yang sama menyebut tulisan objektif sebagai tulisan yang melaporkan informasi tanpa emosi, dan menyebut tulisan bias sebagai tulisan yang tidak menyajikan pendapat berbeda secara adil, atau tidak menyajikannya sama sekali. Ia juga memperingatkan tentang penghilangan: informasi penting yang tidak dilaporkan atau dilaporkan tidak lengkap. Maka pada soal berita, dua hal diperiksa: apakah wartawan memasukkan penilaiannya sendiri, dan apakah pihak yang berbeda pendapat ikut dikutip.
Contoh
“Harga tiket kapal penyeberangan Pelabuhan Tanjung Wira naik dari Rp35.000 menjadi Rp45.000 mulai 1 Mei. Kepala pelabuhan, Hendra, mengatakan kenaikan itu wajar karena harga solar naik. Seorang penumpang, Wati, menyebut kenaikan itu terlalu tinggi bagi pekerja harian.” Harga dan tanggal adalah fakta. Kata wajar dan terlalu tinggi adalah opini dua narasumber yang berbeda pihak, dan wartawan tidak menambahkan penilaiannya sendiri.
Bacaan latihan: Jembatan Gantung Tlogoagung Kembali Dibuka
Paragraf 1: Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Kedungwaru dan Dusun Sidomulyo di Desa Tlogoagung kembali dibuka pada Senin, 7 Juli, setelah ditutup selama empat bulan. Jembatan sepanjang 60 meter itu rusak ketika banjir pada Maret menghanyutkan dua tiang penyangganya. Selama jembatan ditutup, warga Kedungwaru harus memutar sejauh 11 kilometer lewat jalan kecamatan untuk sampai ke pasar dan sekolah di Sidomulyo.
Paragraf 2: Perbaikan dikerjakan pemerintah desa bersama warga dengan biaya Rp420 juta dari dana desa. Tiang penyangga kayu diganti tiang beton, dan lantai jembatan kini dilapisi pelat baja. Kepala Desa Tlogoagung, Suyatno, mengatakan jembatan hanya boleh dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. “Mobil tetap tidak boleh lewat. Jembatan ini jembatan terpenting di desa kami,” katanya.
Paragraf 3: Sejumlah warga menyambut pembukaan itu. Lastri, pedagang sayur dari Kedungwaru, mengaku biaya bensinnya selama empat bulan terakhir naik hampir dua kali lipat karena harus memutar. “Sekarang saya bisa sampai ke pasar dalam sepuluh menit,” ujarnya.
Paragraf 4: Namun, tidak semua warga puas. Ketua RT 02 Sidomulyo, Bambang, menyebut warganya belum pernah diajak membahas batas beban jembatan. Petani di dusunnya, kata dia, memerlukan jalan untuk mobil bak terbuka pada musim panen. Pemerintah desa menyatakan usulan itu akan dibahas dalam musyawarah desa pada Agustus.
Paragraf 5: Sungguh membanggakan melihat warga desa bergotong royong membangun kembali jembatan mereka. Pemerintah desa juga memasang papan batas beban di kedua ujung jembatan dan menjadwalkan pemeriksaan tiang setiap tiga bulan.