Materi
OpenStax Organizational Behavior Bagian 14.2 menyebut model proses konflik yang paling diterima dikembangkan Kenneth Thomas, dengan empat tahap. Pertama, frustrasi: satu pihak merasa terhalang dalam mengejar tujuan penting, misalnya target kinerja, promosi, sumber daya, atau aturan baru. Kedua, konseptualisasi: para pihak mencoba memahami masalahnya, apa yang mereka dan lawannya inginkan, serta strategi yang mungkin dipakai; buku itu menyebutnya tahap pemecahan masalah dan strategi. Ketiga, perilaku: para pihak menjalankan mode penyelesaian yang dipilih, misalnya bersaing atau mengakomodasi. Keempat, hasil: kedua pihak menilai seberapa memuaskan penyelesaiannya. Bila satu pihak tidak puas atau hanya puas sebagian, benih konflik berikutnya sudah tertanam.
Panduan Acas dan CIPD, Mediation: an approach to resolving workplace issues, memuat tabel siklus hidup konflik dengan lima tahap dan tanda-tandanya. Awal: tujuan tidak cocok, ketegangan mulai terlihat, konflik bisa terbuka, terselubung, atau dihindari. Pertumbuhan awal: konfrontasi, posisi terpolarisasi, mencari sekutu, dan tanda konflik makin terang. Jalan buntu: konflik di puncaknya, saling menyalahkan, komunikasi antarpihak berhenti, posisi mengeras. Mencari jalan keluar: ada penerimaan bahwa masalahnya harus dibereskan. Bekerja sama mencari solusi: kolaborasi dan konsensus.
Panduan yang sama mencatat bahwa begitu prosedur formal dipicu, perbedaan cenderung makin berlawanan, dan setelah posisi mengeras sulit sekali mengubah persepsi orang. Karena itu ia menganjurkan konflik ditangani sedini mungkin.
| Jadwal piket di Koperasi Simpan Pinjam Mekar | Tahap model Thomas |
|---|---|
| Sari kesal karena tiga Sabtu berturut-turut kebagian piket | 1. Frustrasi |
| Sari menimbang apa yang ia mau, apa yang mungkin dimau ketua, dan cara mengajukannya | 2. Konseptualisasi |
| Sari mengajukan usulan rotasi di rapat dan bertahan pada usulannya | 3. Perilaku |
| Rotasi disetujui sebagian; Sari hanya puas setengah | 4. Hasil |