Materi
Christian Rohrer dari Nielsen Norman Group memetakan metode riset UX pada dua sumbu. Sumbu pertama, attitudinal lawan behavioral, dirangkum sebagai beda antara apa yang dikatakan orang dan apa yang dilakukannya. Riset attitudinal mengukur keyakinan yang dinyatakan orang, sehingga terbatas pada hal yang mereka sadari dan mau laporkan; survei dan card sorting ada di sisi ini. Riset behavioral mengamati perbuatan, misalnya uji A/B dan eyetracking. Uji usability dan studi lapangan berada di antaranya karena mencampur keduanya. Panduan HCD digital.gov membuka bagiannya dengan ucapan Margaret Mead yang senada: apa yang dikatakan, dilakukan, dan diakui dilakukan orang bisa berbeda sama sekali.
Sumbu kedua, kualitatif lawan kuantitatif. Studi kualitatif mengumpulkan data dengan mengamati atau mendengar langsung, sehingga peneliti bisa bertanya dan menggali; analisisnya tidak berupa hitungan. Studi kuantitatif mengumpulkan data secara tidak langsung lewat instrumen seperti survei atau alat analitik, dan datanya ditentukan lebih dulu, misalnya waktu tugas atau keberhasilan. Rohrer menyimpulkan metode kualitatif cocok untuk menjawab mengapa dan bagaimana memperbaiki, sedangkan kuantitatif untuk berapa banyak. Digital.gov memberi contoh metrik kuantitatif berupa waktu tugas dan rasio klik.
| Pertanyaan tim toko daring batik (karangan) | Metode yang cocok | Posisi |
|---|---|---|
| Berapa persen pengunjung berhenti di halaman ongkos kirim? | Analitik | Kuantitatif, behavioral |
| Kenapa pembeli ragu memasukkan nomor kartu? | Wawancara | Kualitatif, attitudinal |
| Seberapa puas 400 pembeli terhadap kemasan? | Survei | Kuantitatif, attitudinal |